Ketik


..

??

Cari Artikel Lain di sini

Go Happy

Minggu, 21 Oktober 2012

Naskah Drama : RENGASDENGKLOK





Kekalahan Jepang diketahui oleh sebagian golongan muda melalui radio luar negeri. Pada malam harinya Sutan Syahrir menanyakan mengenai Kemerdekaan Indonesia pada Moh. Hatta.
Syahrir : Pak Hatta, apakah benar Indonesia akan merdeka setelah Jepang menyerah pada  sekutu ?
Hatta    : Saya tidak mengerti, namun saya akan menanyakan pada Gunseikanhu. Setelah saya yakin          bahwa Jepang benar menyerah pada sekutu, maka saya akan mengundang PPKI.
Syahrir : Baiklah, kalau ada informasi kabari saya.
                Setelah hal itu, golongan muda mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Rapat dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 1945, pukul 20.30 waktu Jawa.
Chairul : Inilah keputusan yang saya ambil. “Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat                                  Indonesia sendiri tak dapat digantungkan pada orang dan negara lain. Segala ikatan dan       hubungan dengan janji kemerdekaan dan Jepang harus diputuskan dan sebaliknya                                 diharapkan diadakan perundingan dengan golongan muda agar mereka diikutsertakan                    dalam pernyataan pproklamasi.
Wikana : Lalu siapa yang akan menyampaikan pernyataan itu ?
Chairul : Bagaimana  kalau anda dan Bung Darwis ?
Darwis : Saya bersedia !
Wikana : Saya juga bersedia !
Chairul : Baiklah, rapat hari ini ditutup saja.
                Pada pukul 22.30 waktu Jawa kepada Ir. Soekarno di rumahnya, Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Kedua wakil dari golongan muda tersebut lalu menyampaikan pada Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta.
Darwis : Assalamu’alaikum. Bung Karno, Bung Hatta......
Hatta   : Wa’alaikumsalam. Iya masuk !
Wikana : Bung Karno, Bung Hatta...... maksud saya kesini adalah untuk menyampaikan hasil rapat               dari golongan muda.
Soekarno : Apakah hasil rapat tersebut ?
Wikana : Kami ingin agar anda memproklamasikan kemerdekaan. Besok juga anda harus                                                memproklamasikan kemerdekaan.
Soekarno : Maaf kami tidak bisa. Kami masih belum berhak untuk menjalankan pemerintahan.
Darwis : Tidak perlu kita memperhatikan Jepang lagi. Jepang telah menyerah pada sekutu dan                     sampai saat ini sekutu belum datang. Sehingga inilah kesempatan kita untuk                                       memerdekakan Indonesia.
Hatta : Hai pemuda, kami tidak bisa bertindak sewenang-wenang. Kami harus menurut prosedur.
Wikana : Baiklah, apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman itu malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah.
Soekarno : Ini leher saya, seretlah saya ke pojok, dan sudahilah nyawa saya sekarang ini juga, jangan            menunggu besok.
Hatta : Dan kami pun tak dapat ditarik-tarik atau didesak supaya mengumumkan proklamasi itu.
Darwis : Kalau itu pendirian saudara-saudara, baiklah ! Dan kami pemuda-pemuda tidak dapat                   menanggung sesuatu jika besok siang proklamasi belum juga diumumkan.
Wikana : Kami pemuda-pemuda akan bertindak dan menunjukkan kesanggupan yang saudara                    kehendaki itu !
                Sekitar pukul 12.00 kedua utusan meninggalkan halaman rumah Ir. Sukarno dengan diliputi perasaan kesal memikirkan sikap dan perkataan Sukarno-Hatta


PERISTIWA RENGASDENGKLOK
          Sesampainya ditempat rapat, mereka melaporkan semuanya. Menanggapi hal itu golongan muda mengadakan rapat dini hari tanggal 16 Agustus 1945 di Asrama Baperpi, Jalan Cikini 71, Jakarta. Rapat itu dihadiri oleh peserta lama dan Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Muwardi dari barisan pelopor dan Shudanco Singgih dari Daidan PETA Jakarta.
Chairul : Baiklah, pada rapat ini kita menyimpulkan untuk menyingkirkan Ir. Sukarno dan Drs. Moh.            Hatta ke luar kota dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang.
Sukarni : Untuk mewakili kita, saya usul agar Shudanco Singgih menjadi wakilnya. Tujuannya agar                tidak terjadi kecurigaan dari Jepang.
Singgih : Baik, saya sanggup.
                Rencana ini berjalan lancar karena mendapat dukungan perlengkapan Tentara PETA dari Chudanco Latief Hendraningrat yang pada saat itu sedang menggantikan Daidanco Kasman Singodimedjo yang bertugas di Bandung. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30 waktu Jawa sekelompok pemuda membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, sebuah kota di Kabupaten Karawang.
Chairul : Bagaimana kalau kita bawa ke rumah Cudanco Subeno ? Agar keadaan aman dan tidak                   terpengaruh dengan Jepang.
Jusuf K. : Betul, saya setuju dengan anda. Sebaiknya beliau dibawa ke tempat yg aman.
Singgih : Lebih baik kita segera bergegas.
                Sehari penuh Sukarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Kewibawaan yang besar dari kedua tokoh ini membuat para pemuda segan melakukan penekanan lebih jauh.
Singgih : Pak Karno, bagaimana pikiran anda ? Apakah berubah pikiran ?
Sukarno : Saya belum berani memutuskan, tapi saya juga mempunyai keinginan untuk melakukan              Proklamasi.
Singgih : Lalu mengapa Bapak belum berani memproklamasikan kemerdekaan ?
Sukarno : Saya tidak mau mengambil resiko bagi bangsa ini. Saya tidak ingin terjadi pertumpahan                  darah lagi. Disini juga tempatnya tidak terlalu memadahi.
Singgih : Baiklah, saya tidak akan menekan terlalu lama. Anda pikirkan dengan matang”.
                Dengan pembicaraan itu, Singgih memutuskan bahwa sebenarnya Ir. Sukarno mau memproklamasikan kemerdekaan setelah  kembali ke Jakarta. Oleh karena itu Singgih kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana proklamasi. Sementara itu di Jakarta para anggota PPKI yg diundang rapat tanggal 16 Agustus memenuhi undangannya dan berkumpul di Gedung Pejambon 2. Akan tetapi Sukarno-Hatta tidak ada, maka Mr. Ahmad Subarjo mendekati Wikana.

Subarjo : Anak muda, apakah yang kamu katakan pada Soekarno-Hatta ?
Wikana : Saya hanya ingin agar beliau segera memproklamasikan kemerdekaan. Dan bila itu tidak               dilaksanakan, maka akan terjadi pertumpahan darah.
Subarjo : Janganlah kamu tergesa-gesa, masih ada waktu untuk itu. Kita harus menyiapkannya matang-matang.
Wikana : Baiklah, saya percaya pada anda. Tapi dengan segera harus ada proklamasi kemerdekaan bagi Indonesia.
Subarjo : Baiklah, antarkan saya ke tempat Soekarno-Hatta. Proklamasi akan diadakan di Jakarta.
Wikana : Silahkan anda ikut Jusuf Kunto untuk bertemu dengan Soekarno-Hatta.
Karena kesepakatan itu, Jusuf Kunto wakil dari Golongan muda bersedia mengantarkan Ahmad Soebarjo dan sekretarisnya ke Rengasdengklok. Pada jam 18.00 rombongan itu tiba, selanjutnya Ahmad Subarjo memberi jaminan nyawanya bila besok tidak diadakan proklamasi tanggal 17 Agustus selambat-lambatnya jam 12.00. Dengan jaminan itu, Cudanco Subeno bersedia melepas Soekarno-Hatta.



PERUMUSAN TEKS PROKLAMASI
                Rombongan tiba di Jakarta pukul 23.30 waktu Jawa. Setelah Soekarno-Hatta kembali ke rumah masing-masing. Rombongan lalu menuju ke rumah Laksamana Maeda. Hal itu disebabkan karena Laksamana Maeda menyampaikan kepada Ahmad Subarjo bahwa ia akan menjamin keselamatan mereka. Sebelum mulai merumuskan naskah proklamasi, Sukarno-Hatta menemui Mayor Jendral Nishimura untuk menjajagi sikapnya mengenai proklamasi. Mereka ditemani Laksamana Maeda, Shigetada Nishijima dan Tomegoro Yoshizumi serta Miyoshi sebagai penterjemah.
Sukarno : Bantulah kami untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia !
Nishimura : Maaf, saya tidak bisa !
Sukarno : Tolonglah kami. Kami ingin merdeka.
Nishimura : Dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu maka tentara Jepang tidak boleh merubah             status politik Indonesia. Sejak semalam tentara Jepang semata-mata merupakan alat                                       sekutu.
Sukarno : Baiklah, kami akan berusaha sendiri.
Nishimura : Ingat, jangan melaksanakan rapat PPKI !
Sukarno dan rombongan menuju ke rumah Maeda, di ruang tamu terdapat beberapa tokoh untuk merumuskan proklamasi, diantaranya : Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Ahmad Subarjo, Miyoshi (Sebagai orang kepercayaan Nishimura), Sukarni, Mbah Diro dan B.M. Diah.
Sukarno : Sekarang kita mulai rapat. Saya bertugas menulis teks proklamasi.
Subarjo : Baiklah, saya bersedia menyumbangkan pikiran. Saya mengusulkan untuk mengambil dari           rumusan BPUPKI.
Sukarno : Sebentar, akan saya tulis. Silahkan anda mendikte saya.
Subarjo : Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hatta : Saya juga memiliki usulan. Bagaimana bila ada tambahan pernyataan pengalihan kekuasaan.
Sukarno : Oooh.... boleh. Silahkan anda berbicara lalu saya yang menulis.
Hatta : Hal-hal yg mengenai pemindahan kekuasaan, dll. diselenggarakan dengan cara seksama dan        dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Sukarno : Ada usulan lagi ? Kalau tidak, saya rasa sudah cukup. Bagaimana dengan anda Mr.                            Subarjo ?
Subarjo : Saya tidak memiliki usulan. Mungkin Bung Hatta ada usulan ?
Hatta : Saya rasa sudah itu saja.
Sukarno : Baiklah, sekarang tinggal semua hadirin menandatangani konsep ini.
                Pada pukul 04.30 waktu Jawa konsep telah selesai. Selanjutnya mereka menuju ke serambi muka menemui para hadirin yang menunggu. Ir. Sukarno lalu membacakan naskah proklamasi yg masih merupakan konsep.
Sukarno membacakan naskah.
Sukarno : Sekarang mari kita menandatangani naskah ini.
Sukarni : Kami tidak setuju ! Lebih baik hanya Pak Soekarno dan Pak Hatta yg menandatangani.
Hatta : Baiklah kami akan menandatangani naskah ini.
                Setelah usulan Sukarni disetujui, maka Ir. Soekarno meminta pada Sayuti Melik untuk mengetik naskah tersebut. Ada perubahan pada ketikan Sayuti Melik, yaitu kata “tempoh” jadi “tempo”, “wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia” dan tanggal “Djakarta, 17-8-05” diganti “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ‘05”. Setelah itu mereka rapat tentang penyelenggaraan Proklamasi, sampailah pada keputusan bahwa mereka akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di rumah Ir. Soekarno dan semua tokoh diharapkan hadir.


PELAKSANAAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN
          Pada pukul 05.00 waktu Jawa tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin Indonesia dari golongan tua dan golongan muda kembali ke rumah setelah mereka berhasil merumuskan naskah proklamasi. Mereka sepakat akan melakukan proklamasi pada pukul 10.30 waktu Jawa. Saat itu semua media menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan. Pagi harinya di rumah Ir. Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda. Semua persiapan telah disiapkan pagi itu.
Latief : Mari kita semua berdiri untuk mendengarkan pembacaan naskah proklamasi. Dipersilahkan         pada Soekarno-Hatta untuk acara selanjutnya.
Sukarno membaca naskah proklamasi.
Pengibaran bendera merah putih oleh Suhud dan Latif
Sambutan walikota Suwirjo dan Muwardi.
2 Blogger
Twitter
Facebook

2 komentar:

Perhatian :

Dalam berkomentar perhatikan etika dan dengan bahasa yang sopan. Tidak ada unsur pornografi, sara, penghinaan, dsb. Komentar yang tidak pantas akan admin hapus

ADMIN ceritadantipskeren.blogspot.com

Follow by Email