Ketik


..

??

Cari Artikel Lain di sini

Go Happy

Selasa, 12 Februari 2013

Naskah drama cerita rakyat : Legenda Jaka Tarub dan Nawang Wulan





Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu maupun menimba ilmu. Ketika suatu hari di malam bulan purnama ia memasuki hutan, dari kejauhan ia mendengar sayup-sayup suara wanita yang sedang bercanda. Terdorong oleh rasa penasaran, Jaka Tarub berjalan mencari arah menuju suara-suara itu. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah danau yang sangat indah di tengah hutan, beserta 7 orang wanita yang sangat cantik sedang mandi dan bercanda ria. Dengan mengendap- ngendap, Jaka Tarub berjalan mendekat. Kemudian ia menemukan selendang wanita-wanita tersebut yang tergeletak berserakan. Setelah memilih, ia mencuri salah satunya dan menyembunyikannya. Beberapa saat pun berlalu dan para bidadari sudah hendak kembali ke khayangan.

Nawang Wulan       : Kak, bagaimana ini selendangku tidak ada ?
Bidadari tertua        : Cepat Nawang Wulan, coba kita mencari sampai ketemu.
Nawang Wulan       : (Setelah beberapa saat) tetap tidak ada kak. Bagaimana aku kembali ke khayangan ?
6 Bidadari                 : Maaf Nawang, kami harus meninggalkanmu disini karena matahari semakin terbenam.

Nawang Wulan       : Kakak, bawa aku ke khayangan. (Sambil menangis)
Bidadari tertua        : Maaf Nawang, tanpa selendang itu kamu tidak bisa kembali. (Terbang diikuti bidadari yang lain)

Sambil menangis Nawang Wulan mencari-cari selendangnya. Jaka Tarub kemudian menampakkan dirinya dengan membawa kain (bukan selendang Nawang Wulan) dan menghibur sang bidadari. Awalnya Nawang Wulan takut karena mengira Jaka Tarub orang jahat, tetapi setelah Jaka Tarub berhasil meyakinkan Nawang Wulan mau berbicara.

Jaka Tarub                : Hai, kenapa kamu disini ? (Mendekat pada Nawang Wulan)
Nawang Wulan       : Siapa kamu ? Jangan mendekat !
Jaka Tarub                : Tenang, saya Jaka Tarub. Saya tidak berniat jahat.
Nawang Wulan       : Lalu kenapa kamu disini ?
Jaka Tarub                : Saya sedang mencari hewan buruan, kebetulan saya mendengar ada wanita bercanda di dekat sini. Dan akhirnya saya mendapati kamu sedang menangis.
Nawang Wulan       : Selendang saya hilang, entah siapa yang mengambil selendang tersebut.
Jaka Tarub                : Selendang ? (Pura-pura terkejut). Buat apa selendang ?
Nawang Wulan       : Iya selendang. Sebenarnya saya adalah bidadari dari khayangan. Saya dan kakak-kakak saya biasa mandi di danau seperti ini.
Jaka Tarub                : Oooh... Kalau mau, kamu bisa menginap di rumah saya. Tenang, saya orang baik. (Meyakinkan Nawang Wulan)
Nawang Wulan       : Iya, saya ikut ke rumah kamu. (Dengan terpaksa)

Setelah beberapa bulan, Jaka Tarub ingin menikah dengan Nawang Wulan. Pada suatu hari, Jaka Tarub mengutarakan maksudnya tersebut. Karena merasa tidak memiliki siapapun di bumi, Nawang Wulan menerima tawaran Jaka Tarub tersebut. Sejak menikah dengan Nawang Wulan, Jaka Tarub hidup berkecukupan. Panennya melimpah dan lumbung selalu dipenuhi oleh padi tanpa pernah berkekurangan. Pakaian Nawang Wulan disembunyikan Jaka Tarub di dalam lumbung yang selalu penuh.

Nawang Wulan       : Jaka, bagaimana hasil panennya ?
Jaka Tarub                : Tidak ada halangan Nawang, semakin lama semakin banyak kita panen.
Nawang Wulan       : Tapi kamu harus tetap kerja keras, karena mungkin saat musim kemarau kita jarang panen.
Jaka Tarub                : Iya Nawang, aku pasti tetap kerja keras.
Nawang Wulan       : (Tersenyum bahagia)

Lalu mereka dikaruniai seorang anak (menurut cerita anak itu bernama Nawangsih). Mereka hidup bahagia dan selalu merawat Nawang Asih dengan sepenuh hati. Namun setelah beberapa lama hidup berumah tangga, terusiklah rasa ingin tahu Jaka Tarub. Setiap hari ia dan keluarganya selalu makan nasi, namun lumbung selalu tidak pernah berkurang seolah tak ada padi yang dipakai untuk mereka makan. Suatu hari Nawang Wulan hendak pergi ke sungai. Nawang Wulan berpesan agar Jaka Tarub tidak membuka tutup penanak nasi apapun yang terjadi.

Nawang Wulan       : Jaka, jangan kamu buka tutup ini apapun yang terjadi.
Jaka Tarub                : Kenapa ? (penasaran)
Nawang Wulan       : Sudahlah, kamu turuti apa kata-kata ku tadi. Sekarang aku pamit pergi ke sungai, Jaka. (Pergi meninggalkan rumah)

Namun karena Jaka Tarub penasaran, akhirnya ia mencoba melihat apa yang ada di dalam penanak nasi tersebut. Dan di dalamnya hanya terdapat sebutir beras. Akhirnya Jaka Tarub membiarkan beras itu tetap di dalam. Setelah Nawang Wulan pulang, ia bertanya pada Jaka Tarub tentang larangannya tadi.

Nawang Wulan       : Jaka, apakah kamu membuka tutup ini ? (heran)
Jaka Tarub                : Tidak, saya tidak membuka tutup itu.
Nawang Wulan       : Bohong ! Lalu kenapa beras ini tidak berubah ? (bertanya dengan emosi)
Jaka Tarub                : (Tertunduk) Iya , Nawang. Saya telah melihat isi di dalamnya.
Nawang Wulan       : Apakah kamu tidak mendengar pesan saya tadi, Jaka !
Jaka Tarub                : Saya mengerti, tapi saya penasaran kenapa padi kita tidak pernah habis. Padahal kita selalu makan nasi.
Nawang Wulan       : (Menangis dan meninggalkan Jaka Tarub)

Nawang Wulan menjadi sedih karena sejak saat itu ia harus memasak nasi seperti manusia biasa. Ia harus bersusah payah menumbuk padi banyak- banyak menjadi beras sebelum kemudian menanaknya menjadi nasi. Akibatnya karena dipakai terus menerus, lama kelamaan persediaan padi di lumbung Jaka Tarub semakin menyusut. Pelan tapi pasti, padi mereka semakin habis, sementara musim panen masih belum tiba. Ketika suatu hari Nawang Wulan kembali mengambil padi untuk ditumbuk, dilihatnya seonggok kain yang tersembul di balik tumpukan padi. Ketika ditarik dan diperhatikan, teringatlah Nawang Wulan kalau itu adalah selendang bidadarinya.

Nawang Wulan       : (monolog) Rupanya selama ini Jaka Tarub yang menyembunyikan pakaianku. Dan karena isi lumbung terus berkurang pada akhirnya aku bisa menemukannya kembali. Ini pasti sudah menjadi kehendak Yang Di Atas. Tapi kenapa Jaka Tarub tega berbuat seperti ini kepadaku ? Apakah salahku kepadanya ? (Nawang Wulan menangis).

Ia lalu menemui Jaka Tarub untuk berpamitan dan memintanya merawat anak mereka baik-baik. Jaka Tarub memohon dengan sangat agar istrinya tidak meninggalkannya, namun sudah takdir Nawang Wulan untuk kembali ke khayangan dan berpisah dengannya.

Nawang Wulan       : Jaka, terimakasih atas semua kebaikanmu selama ini. Kamu memang orang baik. (Tersenyum)
Jaka Tarub                : (Terkejut) Dari mana kamu mendapat selendang itu ?
Nawang Wulan       : Kamu tidak perlu berpura-pura, saya sudah mengetahui semua. Sekarang saya akan kembali ke khayangan.
Jaka Tarub                : Tidak ! Jangan kamu pergi Nawang, aku sangat mencintaimu.
Nawang Wulan       : Tapi aku harus kembali menemui keluargaku di atas. Aku tidak dapat tinggal di sini.
Jaka Tarub                : Bagaimana dengan anak kita ? Kamu tidak kasihan ?
Nawang Wulan       : Saya ingin kamu merawatnya, agar kelak menjadi orang baik sepertimu. Jika ingin bertemu, setiap bulan purnama datanglah ke dekat danau dimana kita pertama bertemu. Teriakkan namaku maka aku akan datang.
Jaka Tarub                : Selamat jalan Nawang, aku selalu menunggumu kembali.
Nawang Wulan       : Suatu saat nanti (terbang kembali ke khayangan)

Ia pun kemudian terbang ke langit menuju khayangan, meninggalkan Jaka Tarub yang menangis dalam penyesalan.
#Tamat#


Menurut cerita dan browsing di internet, ternyata kisah cerita legenda Jaka Tarub dan 7 bidadari ditengarai peristiwanya berada di daerah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terbukti dengan adanya peninggalan cagar budaya, yang berupa lesung dari batu.
Lesung adalah alat menumbuk padi. Peralatan pertanian yang lumrah ada di pedesaan.
Lesung yang dipercaya sebagai peninggalan Jaka Tarub, berlokasi di wilayah Giring. Dari Wonosari mengambil arah jurusan Paliyan kira-kira 8 km.

Dari tempat lesung peninggalan Jaka Tarub, ke arah Gua Maria, sekitar 5 km di atas bukit ada komplek pemakaman Jaka Tarub, Pangeran Bondan Kejawan, Dewi Nawangsih, dll.
Silahkan mengunjungi jika sampai di daerah Gunung Kidul, namun tidak akan menemukan bidadari yang mandi di sungai. Apalagi kalau musim kemarau, sungainya kering.

Follow by Email